Sabtu, 03 Desember 2016

LEBIH MEMILIH MENJADI PENULIS NOVEL ATAU PENULIS SKENARIO ?






Ingin menjadi penulis novel atau penulis skenario. Hal itulah yang selalu terbesit di dalam benak saya. Sewaktu masih duduk di bangku SMA. Sebenarnya penulis novel adalah cita-cita saya sewaktu kelas 4 SD. Semua tulisan dan judul sudah banyak saya tulis dibuku kosong. Berbagai macam genre cerita sudah saya ubek - ubek dan saya campur - campur dengan genre yang lain agar menarik. Saya bukanlah orang yang biasa memberikan satu genre saja disatu cerita saya.

Banyak genre cerita yang tak pernah luput saya tulis di dalam catatan saya. Meski sekarang saya duduk dibangku pekuliahan. Belum juga saya menjadi penulis beken ataupun penulis novel yang sudah saya idamkan sejak lama. Menurut pandangan saya. Menjadi penulis novel itu adalah suatu profesi yang tidak bisa diatur oleh siapapun. Mau keluarga atau siapapun. Hanya kita yang menentukan mau bagaimana jalan cerita tersebut dan mau bagaimana ending yang ingin dibuat. Semuanya kita yang menentukan dan semaunya kita mau bagaimana. Mau kita buat sad ending atau gantung pun terserah - terserah kita, karena disini kitalah tuanya.











Berbeda dengan menjadi penulis skenario. Menurut pendangan saya, menjadi penulis skenario adalah profesi yang hampir sama dengan penulis novel. toh.. sama - sama menulis. Hanya saja perbedaan garis besarnya adalah semua jalan cerita ditentukan oleh penonton dan produser atau PHnya. Dan itu diluar idealis seorang penulis menurut pandangan saya. Seorang penulis itu liar. Konsisten dan mutlak dengan caranya sendiri. Tidak terkungkung dan tidak bisa diatur oleh siapapun. Hanya naluri dan keegonya yang berjalan mengikuti pola jalan alur yang diceritakan.

Meski memang saya akui menjadi penulis skenario lebih banyak keuntungannya. Yakni penghasilan yang didapat lebih besar dibandingkan menjadi seorang penulis novel. Bayangkan, dalam satu episode penulis yang masih amatir saja bisa mendapatkan 1 juta per episode. Apalagi menjadi seorang penulis skenario senior yang sudah berpengalaman. Contoh satu saja penulis dan sutradara favorit saya Bapak Imam Tantowi. Yap.. Penulis skenario dari Angling Dharma , Tukang Bubur Naik Haji dan juga 7 Manusia Harimau. Sudah kalian bayangkan bukan berapa royalti yang beliau bisa dapat ? Saya dengar penulis skenario sinetron bisa mendapat penghasilan lebih dari 50 jt. Saya ga tahu itu bener atau ga. Namun royalti tersebut tidak langsung bisa masuk ke kantongnya sendiri. Karena beliau harus membaginya lagi ke tim – tim yang sudah bekerja sama dengannya.

Satu sinetron berpegang pada kekuatan satu tim penulis, dan satu tim penulis tersebut ada 3 sampai 5 orang. Tidak mungkin kan jika satu sinetron dipegang oleh satu orang penulis saja. Pasti strees berat tingkat level skripsi review puluhan kali. Apalagi banyaknya permintaan PH yang ingin terus menambahkan episod sampai ratusan hingga ribuan episod. Bisa kalian bayangkan lebih besar tanggung jawab mana menjadi penulis novel atau penulis skenario. Atau kalian ingin menjadi kedua – duanya ??













Ada juga penulis novel yang beralih menjadi penulis skenario film yang diadaptasi dari novelnya sendiri. Contoh, Bapak Habiburrahman El Shirazy dan juga Raditya Dika. Mereka berhasil sukses dengan novel – novelnya dan juga film yang mereka bawai. Yang satu pernah kuliah di Australia dan satunya lagi di Kairo. Ya iyalah.. Ilmu sama pengalamannya aja lebih banyakan mereka. Bagi saya mereka adalah master di genre mereka masing – masing. Dan tentunya juga cara penulisan sastra mereka masing - masing. 

Satu hal lagi, saya tidak tahu apakah ada dari seorang penulis novel beralih menjadi penulis skenario sinetron. Sampai saat ini sepertinya belum ada. Jadi bagaimana ? Mau berada di posisi mana kalian ? Mau diposisi mana kalian ingin tinggali ? Tidak ada masalah kalian berada di posisi mana. Asalkan itu masih baik untuk dipelajari.


-MAS-






                    Hai everyone.. perkenalkan mimin yang punya blog ini adalah...